Sertifikasi Guru, Bumerang bagi Pendidikan
Dengan berlakunya Undang-Undang Guru dan Dosen, maka harkat dan martabat guru menjadi meningkat. Minat pemuda untuk menjadi guru juga meningkat. Pandangan mata yang tadinya meremehkan pekerjaan sebagai guru, kini berubah menjadi pandangan iri dan penyesalan karena sebagian dari mereka telah menolak menjadi seorang guru.
Bagi guru sendiri, sertifikasi berarti tantangan untuk mengubah pola pikir dan sikap dalam menghadapi profesinya sebagai guru. Guru dituntut untuk lebih kreatif dan memiliki motivasi yang lebih dalam menjalankan profesinya. Tuntutan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik dapat tercapai apabila seorang guru telah memiliki sertifikat pendidik. Begitulah yang ada dalam bayang pikiran kita.
selanjutnya
3 comments November 17, 2009
Novel Aluh Suryani 1
1. Kelahiran
Mustafa menampakkan wajah yang tegang. Keringat becucuran dari sekujur tubuhnya. Wati, istrinya yang tergolek lemah kehabisan tenaga, hanya bisa memejamkan matanya sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Sementara itu seorang bidan yang membantu persalinan Wati, juga tidak kalah tegang. Keringat berleleran di sekujur tubuhnya.
“Pak Mustafa, jagalah istri Bapak, biar saya memanggil dokter”, kata bidan yang sudah cukup berumur tapi masih begitu energik itu sambil bergegas membersihkan tangan di wastafel yang terdapat di sudut ruangan. Bidan itu segera saja berlalu sambil menutup pintu setengah dibanting.
selanjutnya
Add comment November 17, 2009
Case Study Memberi Petunjuk, Bagaimana Mengajarkannya?
Hari itu, di kelas VIII harus kumasuki. Dalam pembelajaran kali ini, saya harus menyampaikan materi menyusun petunjuk cara melakukan atau membuat sesuatu. Kompetensi yang wajib dikuasai siswa adalah “menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif”. Untuk itu saya sudah menyiapkan rencana pembelajaran sebaik mungkin. Bahkan presentasi mengajar berupa powerpoint sudah kupersiapkan.
selanjutnya
Add comment November 17, 2009
Diklat Penggunaan Modul MGMP Mandiri
Tanggal 5 sampai 11 Oktober aku megikuti diklat di Bogor. Kota dingin yag kurasa sekarang sudah panas – apa karena tigkat curah hujan yang sangat kurang. Materi yang kuikuti semuanya berjalan dengan baik. Tujuannya agar nanti setelah kembali ke daerah masing-masing bisa memanfaatkan suplemen modul MGMP BERMUTU yang mesti dilaksanakan 16 kali pertemuan. Tidak semua kabupaten dan provinsi terlibat dalam kegiatan ini. Hanya dari enam belas provinsi.
Kegiatan yang banyak dilakukan adalah mengkritisi suplemen modul yang masin terdapat cukup banyak kekurangan, dengan tujuan agar nanti sekembalinya ke daerah masing-masing dapat memperbaiki modul-modul tersebut untuk digunakan dalam in house training selama tiga hari.
Selanjutnya, karena masih dalam satu rangkaian, aku harus melanjutkan diklat – masih di kota Bogor – hanya beda tempat pelaksanaanya saja. Waktunya 11 – 16 Oktober 2009. Diklat yang akan datang adalah diklat untuk PCT, yaitu Provincial Core Teacher. Sama saja, untuk menjadi pemandu atau tutor dalam kegiatan MGMP BERMUTU.Kegiatan yang akan datang, pesertanya berasal dari lima provinsi saja, sayang aku tak hapal dengan adal mereka. Yang jelas dari Kalteng, Kotawaringin Barat mengirimkan utusan sembilan orang disampaing tiga orang yang saat ini bertahan di Bogor. Jadi semuanya 12 orang – kalau datang semua tentunya.
7 comments October 10, 2009
Mengubah Paradigma Sekolah Favorit
Sekilas penulis mengamati keberadaan sebuah sekolah favorit tingkat SMP di sebuah kota. Sekolah tersebut menjadi harapan keberhasilan pendidikan anak-anak sekolah dasar di sekitarnya. Sekitar 70 persen anak sekolah dasar di kota itu menginginkan dapat duduk di sekolah itu setelah tamat SD. selanjutnya
Add comment September 30, 2009
Koruptor, Mafia Kayu, dan Teroris
Mana yang paling menakutkan bagi kita? Sebagian tentu akan menjawab teroris. Berbeda ketika pertanyaan yang diajukan adalah, mana yang lebih merugikan di atnara ketiganya? Kita tidak dapat langsung menjawabnya. Ada banyak hal yang harus dijadikan pertimbangan. Salah satunya adalah kita menjadi korbannya atau tidak. Di samping itu, korban tak lengsung seringkali tidak menyadari penyebab derita yang dialaminya.
Lihat saja ketika terjadi pemburuan dan penangkapan teroris, pandangan kita tertuju pada berita-berita itu. Apalagi ketika teroris merasa berada di atas angin dan berhasil meneror negeri ini dengan ledakan-ledakan bom di berbagai tempat. Keadaan semacam itu menyebabkan kita tidak pernah merasa tenang.
Mafia kayu, atau pelaku illegal logging, sekilas tidak merugikan kita. Tapi begitu menyedihkan ketika kita menyaksikan berita korban banjir di Sumatra yang diakibatkan oleh gundulnya hutan di hulu sungai. Masyarakat yang “tidak tahu apa-apa” menjadi korban. Kesan yang muncul adalah mereka menjadi korban bencana alam yang alami. Pada kenyataannya, bencana alam itu disebabkan oleh ulah manusia. Tidak sadar juga? Katakan saja “Saya ….. tidak lebih pintar dari anak kelas lima SD”. Ingat kuis Are You Smarter than a 5th grader. Ngaak perlu malu kok mengakui kesalahan dan kebodohan kita. Lalu kita bertobat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Koruptor, barangkali kejahatan yang paling tidak kentara. Di hadapan masyarakat banyak pelakunya sering memakai topeng dermawan. Senyum koruptor sangat sering muncul di televisi sehingga kita tidak menyadari bahwa yang tersenyum adalah topengnya. Andai kita dapat membelah hatinya, tentu kanker korupsi sudah sangat akut menyerangnya.
Mana yang paling jahat, koruptor, pembalak kayu hutan, atau teroris?
Semuanya jahat? Ada yang tersesat, namun ada yang pura-pura tidak tahu. Sok suci, sok dermawan, sok jadi pahlawan.
2 comments September 18, 2009
Pendidikan di Tengah Kecamuk Budaya
Menghadapi klaim Malaysia terhadap seni dan budaya kita, berjuta orang menghujatnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih mempunyai rasa memiliki walaupun hanya sekadar rasa memiliki. Pada kenyataannya, kita jauh dari budaya-budaya yang diributkan itu, kecuali sekelompok kecil masyarakat yang melibatkan diri dalam budaya itu. Pada kenyataannya, kita masih suka membeli kaset bajakan dan menggunakan software bajakan. selanjutnya
2 comments September 3, 2009
Muslim Dilarang Nonton Konser Black Eyed Peas
Kapanlagi.com – Sabtu, Agustus 29
Muslim Dilarang Nonton Konser Black Eyed Peas
Pemerintah Malaysia memberlakukan larangan buat umat Islam untuk menghadiri konser Black Eyed Peas yang rencananya digelar bulan September mendatang. Bukan karena membeda-bedakan namun karena acara ini disponsori oleh perusahaan bir terkemuka.
“Muslim tidak boleh menghadiri acara ini. Non-Muslim diijinkan datang dan bersenang-senang,” ungkap seorang pejabat di Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia. Alasannya jelas karena acara ini digelar dalam rangka ulang tahun ke-250 Guinness maka bir akan jadi bagian penting dari acara ini.
Di saat yang sama, pihak penyelenggara pun memberikan pernyataan senada dengan pernyataan yang dikeluarkan pemerintah Malaysia ini. “Pesta ini hanya terbuka untuk mereka yang non-Muslim dan berusia di atas 18 tahun,” jelas pihak penyelenggara konser ini. Konser Black Eyed Peas ini akan digelar di sebuah theme park di Kuala Lumpur September nanti. (cnm/roc)
Sumber: http://id.news.yahoo.com/kplg/20090828/ten-muslim-dilarang-nonton-konser-black-c3fbcbd.html
Kalau di Indonesia gimana jika terjadi hal yang sama?
Add comment August 29, 2009
Tak Layak Kita Marah
Menghadapi klaim bangsa Malaysia terhadap seni dan budaya kita, berjuta orang menghujatnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih mempunyai rasa memiliki walaupun hanya sekadar rasa memiliki. Pada kenyataannya, kita jauh dari budaya-budaya yang diributkan itu, kecuali sekelompok kecil masyarakat yang melibatkan diri dalam budaya itu. Pada kenyataannya, kita masih suka membeli kaset bajakan dan menggunakan software bajakan. Yang tidak pernah mau kita lakukan adalah membeli dan memakai sepeda motor dan mobil buatan Indonesia. Membajaknya pun kita tidak pernah mau. Kita lebih bangga menggunakan sepeda motor buatan Jepang. Saya sedih menyaksikan tak ada sepeda motor atau mobil buatan dan merek Indonesia yang berkeliaran di jalan-jalan di negeri ini. Namun begitu terkejut ketika bea cukai Pilipina menemukan senjata butan Pindad, Indonesia.
Kita tidak perlu marah berlebihan terhadap Malaysia meskipun Sipadan dan Ligitan sudah mereka rebut, Ambalat sudah di depan mulut Malaysia. Pada kenyataannya orang-orang kita sendiri menjual pulau-pulau kecil yang ada di berbagai provinsi di Indonesia.
Kita tidak perlu marah terhadap Malaysia karena Malaysia mengusir TKI ilegal, atau bahkan menyiksa mereka dan videonya beredar di internet. Pada kenyataannya, kita tidak mempunyai lapangan kerja untuk mereka. Kita masih melihat orang yang berbondong-bondong menjadi pengemis, berbondong-bondong memperebutkan zakat yang dibagikan oleh orang-orang kaya, dan berebut menerima BLT dan raskin. Pada kenyataannya, sebagian masyarakat kita terusir dari tanahnya di Sidoarjo, di Papua, di Aceh, di Ambon, dan masih banyak lagi.
Namun kita berlu meneriakkan nasionalisme kita dan menuntut pemerintah untuk bersikap tegas ketika lagu Indonesia Raya diplesetkan, dan ketika Malaysia mengirimkan Noordin M. Top dan Dr. Ahzari ke Indonesia untuk mengacaukan keamanan di negeri ini.
Pada bagian awal, mungkin Anda kecewa dengan tulisan ini. Namun, saat ini, mari kita galang dukungan untuk berbuat sesuatu yang berarti bagi negeri ini. Mari kita jadikan Malaysia sebagai salah provinsi di NKRI. Menjadikan Malaysia bagian dari NKRI. Tampaknya, dengan cara ini Malaysia akan lebih senang.
Mari kita hidupkan lagi semangat IGOS (Indonesia Goes Open Source), mari kita dirikan perusahaan otomotif. Mari kita gunakan produk dalam negeri. Kita hujat orang-orang yang dengan bangganya memamerkan diri ketika menggunakan baju, jam tangan, sepatu bermerek luar negeri. Saya ingin menaiki sepeda motor buatan Indonesia, tapi tak pernah saya menemukannya????
Sedih lagi.
Seharusnya kita marah pada diri kita sendiri.
2 comments August 29, 2009